Silaturrahmi dan Belajar Bisnis di Kertabumi

Ramenesia – Batik yang merupakan warisan budaya asli Nusantara identik dengan pakaian untuk orang tua. Sebelum mengenal Kertabumi, jujur saya lebih dahulu tahu tentang Batik Trusmi yang mengusung batik untuk semua golongan. Batik trusmi yang digawangi oleh Sally Giovani dan suaminya berhasil menembus keberbagai market dalam bahkan luar negeri.

Tapi saya sedang belajar dengan Kertabumi, jadi saya hanya akan membahas vendor ini bukan batiknya mbak Sally dan mas Ibnu Rianto, kecuali saya dikasih kesempatan untuk ngobrol dengan suami istri ini.

batikkeratbumi

Kertabumi, pernah dengar nama ini? Saya tidak tahu pasti nama ini dari mana munculnya, terlihat seperti nama orang atau bahkan daerah di pulau Jawa. Namun Kertabumi yang kami temui bukan itu semua. Nama ini merupakan brand dari salah satu batik di Wates, Kulon Progo. Didunia onlineshop, khususnya yang bermain niche batik, nama Kertabumi sudah sering mondar – mandir di Facebook.

Sosok Dibalik Kertabumi

Berdiri tahun 2013, Kertabumi ini memiliki owner yang tergolong masih muda namun kemampuanya luar biasa, mas Rifki Ali Hamidi, beliau diumur 19 tahun telah membeli mobil BMW 318i sendiri. Salah satu rekan saya merupakan teman komunitas beliau, yang menjadikan jalan saya dan teman – teman yang lain dapat bersilaturrahmi.

“Tadi mas Rifki titip pesan untuk menemani tamu, beliau masih di wates belum bisa menemani mas – mas semua.” Kata mas Imam selaku partner Rifki Al Hamidi. Belum rezeki, itu menurut saya pribadi. Tapi karena mas Imam ini yang membersamai Rifki dari awal, pastilah dia tahu banyak tentang Kertabumi, jadi kamipun tidak melewatkan untuk sedikit bertanya.

Teknik Market Kertabumi

target_cover

Kalau kamu sering main Facebook dan umur sudah diatas 25 tahun, bisa jadi kamu pernah kena promosi tim marketing Kertabumi. Karena marketing kertabumi bermain dengan Facebook Ads dengan targetnya umur minimal 25 tahun. Saya tidak memungkiri pernah terkena promosinya karena umur saya ada didalam target marketnya.

Dengan tujuh Customer Service sebagai garda depan, team ini siap melayani kamu dengan baik whatsapp, bbm, ataupun telepon. Saya sendiri melihat efektivitas yang dihasilkan divisi marketing ini, dengan harga batik minimal Rp.280.000 dan paling mahal Rp. 410.000 mereka bisa melakukan penjualan sampai 500 pcs batik. Uniknya lagi mereka tidak seperti vendor – vendor lain yang lebih sering menjaring banyak reseller untuk membantu pemasaran. Target market mereka langsung ke-end user atau pengguna langsung.

Seleksi Ketat Untuk Menghasilkan Team Loyal

Agak jahil kalau dibilang, karena saya sempat bertanya tentang seberapa sering gonta ganti team. Mengejutkan juga, dalam perjalanannya selama ini baru sekitar lima kali bongkar pasang. Dengan kata lain mereka ini betah dalam manajemen Kertabumi.

interview

Layaknya perusahaan besar dan dibuktikan dengan mental perusahaan besar, Kertabumi melakukan seleksi untuk teamnya dengan proses tes psikologi dan tes wawancara. Kalau kamu pernah melamar pekerjaan di perusahaan besar tes psikologi lazim dilakukan oleh mereka.

Rekrutmen tim Kertabumi dibantu oleh dua mahasiswa S2 Psikologi Universitas Mercu Buana. Menghadirkan orang psikologi tentu membuktikan bahwa Manajemen Kertabumi tidak ingin memiliki tim yang asal, tidak produktif, dan dipertanyakan loyalitasnya.

Kertabumi Menganut Paham Bisnis ABG

Kata mas Imam, “Bisnis itukan harus sinergi mas, jadi bisnis kami itu juga harus ABG”. Apa maksudnya bisnis ABG? Ini bukan singkatan anak puber yang sekarang ini usia segini rentan ng-alay. Academic, Business, dan Government, tiga sektor ini dirangkul oleh vendor ini untuk memperkuat dan memperbesar perusahaan. Dengan sinergi tiga sektor tesebut, akan memacu inovasi dan meperkuat daya saing. Saya merasakan bahwa vendor batik ini mampu bersaing dengan kompetitor – kompetitor yang lain.

Langkah Kertabumi mengusung ABG sendiri selaras apa yang dikatakan oleh rektor Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Muhammad Bisri satu tahun lalu. “Semua pihak, akademisi, pebisnis atau perusahaan serta pemerintah harus saling bersinergi untuk kemajuan di bidang penelitian ini,” kata beliau dalam sesi wawancara.

Dua jam main di Kertabumi membawa oleh – oleh ilmu cukup banyak. Bersyukur juga telah diketemukan teman – teman seperjuangan yang dapat membawa saya memperoleh ilmu – ilmu baru. Tapi apalah ilmu yang banyak jika tidak diamalkan. Seperti kata Imam Syafi’i, Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak, akan menjadi mati lalu membusuk. 

About the author: ramenesia

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *